Begitu banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengekspresikan kepedulian terhadap tanah air. Dimulai dari yang teguh menunaikan kuasa jabatan, menampik tabiat korupsi, hingga yang dayanya mengkristal jadi kritik. Kritik itu sendiri juga bisa diwujudkan dalam demonstrasi keras, petisi elegan, literasi pencerahan, lantun lagu, sampai yang hanya mampu larut dalam hening.
Kritik melalui harmoni nada dan lirik lagu pun ternyata terbentang lebar. Ada yang garang lantang siap menerjang, ada yang syahdu merindu terang di ujung terowongan, dan juga ada yang melontarkan celoteh jenaka yang menghujam kepekaan.
Itulah cara yang dilakukan para alumni ITB melambungkan getir batinnya atas fenomena yang melanda Indonesia. Para alumni ITB bersatu dan membuat sebuah grup musik, BerNyala.
Letup keresahan dan kegeraman membuncah dalam lagu Perang yang merangkul semua orang menolak takluk pada kebobrokan. Kalaupun perjuangan ternyata harus patah, sejatinya jiwa-jiwa merdeka tak pernah kalah. Selalu tersimpan benih bela rasa dalam merawat mimpi dan daya juang sesama anak negeri walau harus rela Bernyanyi Di Dalam Gelap.
Dalam kegelapan, rasa pedih kian menyayat kala menyaksikan betapa Percuma kekayaan alam maupun perjuangan para pendahulu akibat adab rakyat yang terbodohkan maupun pemimpin yang tak acuh. Terlebih saat para pengkhianat demikian tamak melampiaskan syahwat diri dengan sikap EGP (Emangnya Gue Pikirin). Mereka adalah Drakula tanpa nurani yang tega menghisap jiwa rakyat hingga kerontang.
Beruntung selalu ada sosok yang tak henti menyapa Halo sebagai tanda bahwa kehidupan masih berdenyut walau rasa letih dan putus asa demikian keras mendera. Kesadaran hakiki layak dirawat melalui dentam ritmis Melodi SKJ (Standar Kewarasan Jiwa) yang menampik bodoh.
Kita patut setia Menjaga Negeri dari tangan-tangan kotor yang tak sungkan memperkosa Ibu Pertiwi. Rakyat Jelantah sekalipun harus punya harga diri selaku ahli waris negeri. Hanya dengan demikian kita bisa bangga berbisik Aku Padamu pada tanah air.
Ekspresi resah, geram, asa, semangat, dan kesetiakawanan alumni ITB terjalin kental dalam album kesadaran bertajuk Bernyanyi Dalam Gelap. BerNyala paham bahwa menjalani kegelapan bukanlah pilihan, melainkan penindasan atas ketakberdayaan maupun kebodohan. Sedangkan kegelapan amatlah berbahaya karena berpeluang melesakkan sikap pasrah bersekutu dengan penjarah. Di titik itu, kami sepakat bernyanyi sebagai isyarat bahwa tekad dan arah belum pupus dari nurani walau gelap menghadang pandang.
Kini dan di sini, BerNyala masih ada dan akan tetap ada, mengusung suara yang tak tersuarakan.

