Skip to Content

Blog Archives

Henry C. Tanijaya – Devotion

Di tengah kehidupan yang terus berjalan, terkadang kita membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak. Ruang untuk menarik nafas, menenangkan pikiran, dan kembali mengarahkan hati kepada Tuhan. 

Kerinduan untuk menghadirkan ruang tersebut menjadi awal terlahirnya Devotion, album terbaru dari Henry C. Tanijaya. Album ini hadir sebagai sebuah karya instrumental yang mengajak para pendengar menikmati momen yang lebih tenang di tengah kesibukan sekaligus menyediakan ruang personal untuk berdoa, merenung, dan mengingat kembali kebaikan Tuhan. 

Melalui album ini, Henry membiarkan melodi dan suasana berbicara dengan caranya sendiri. Setiap alunan disusun secara sederhana, lembut, dan atmosferik, menciptakan suasana yang dapat menemani berbagai momen refleksi pribadi.

Album ini dapat dinikmati sebagai teman saat teduh, ketika sedang berdoa, membaca Alkitab, ataupun ketika seseorang hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri setelah menjalani hari yang panjang.

Henry berharap, album Devotion dapat menjadi teman bagi siapapun yang sedang mencari ketenangan, membutuhkan waktu untuk berefleksi, atau ingin kembali mengingat bahwa mereka tak menjalani setiap musim kehidupan seorang diri. Sebab dalam keadaan apapun, Tuhan tetap hadir, kasih-Nya tetap ada, dan Dia tak pernah meninggalkan kita. 

Album Devotion karya Henry C. Tanijaya sudah dapat didengarkan pada seluruh digital streaming platform kesayangan kalian.

—

DEVOTION – HENRY C. TANJIYA

Track List: 

  1. Intro
  2. Manis Kau Dengar
  3. Aku Mengasihi Engkau Yesus
  4. MenyenangkanMu
  5. I Need Thee
  6. It Is Well
  7. Wonderful Day
  8. KumengasihiMu

Credits:

Music Arrangement, Mixing, Mastering : Henry C. Tanijaya

Cover Art Designer : Renata Iswanda

Nada Latuharhary – Satu Bintang

Dalam hidup, ada momen-momen sederhana yang terasa begitu istimewa ketika dilewati bersama orang tersayang. Duduk bersama di bawah langit malam, menikmati suasana yang tenang, berbagi cerita, atau sekedar menikmati kehadiran satu sama lain. Momen yang tampaknya sederhana, tetapi justru menjadi kenangan yang ingin terus disimpan. 

Perasaan tersebut terangkum manis dalam Satu Bintang, karya terbaru dari Nada Latuharhary. Lagu ini mengajak para pendengar untuk masuk ke dalam sebuah suasana malam yang hangat, tenang, dan penuh kasih. Rasa nyaman dan aman ketika berada di dekat orang yang disayanginya. 

Dibalut dalam bahasa Ambon, lagu ini bercerita tentang sebuah kebersamaan yang begitu berarti. Di tengah indahnya malam, hadir perasaan cinta dan rasa syukur karena dapat menikmati waktu bersama seseorang yang istimewa. Namun, dibalik kehangatan tersebut, terselip pula rasa takut kehilangan. Ada keinginan agar waktu berhenti sejenak, sehingga momen yang sedang dinikmati tidak harus segera berakhir. 

Satu Bintang tak hanya dapat dimaknai sebagai kisah romantis antara sepasang kekasih. Lagu ini memiliki makna yang lebih universal, sebuah representasi perasaan kepada siapapun yang memiliki tempat istimewa dalam hidup, baik pasangan, keluarga, sahabat, maupun orang terdekat yang kehadirannya memberikan rasa nyaman.

Melalui Satu Bintang, Nada Latuharhary menghadirkan sebuah lagu yang sederhana namun dekat dengan pengalaman banyak orang, yaitu mencintai atau menyayangi seseorang, menikmati kebersamaan dengannya, dan berharap waktu tak berjalan terlalu cepat. 

Dengarkan Satu Bintang karya Nada Latuharhary di seluruh digital streaming platform kesayangan kalian.

—

SATU BINTANG – NADA LATUHARHARY

Song Credits: 

Author : Maxy Makailipessy

Composer : Arles Tita

Arranger : Arles Tita

Producer : Nada Latuharhary

Mixing & Mastering : Arles Tita

Ivan Nestorman – UMA NUSANTARA

Indonesia merupakan rumah bagi begitu banyak cerita. Dari keindahan alam yang berbeda-beda, tradisi yang diwariskan lintas generasi, hingga identitas masyarakat yang tumbuh dari tanah tempat mereka berpijak. Keberagaman itulah yang menjadi nafas dalam album terbaru Ivan Nestorman, bertajuk UMA NUSANTARA.

Bagi Ivan Nestorman, perjalanan mengenal Indonesia tak hanya dapat dilakukan dengan melihat peta, tetapi juga dengan mendengarkan suara yang lahir dari setiap tanahnya. Melalui musik, berbagai lanskap dan kebudayaan Nusantara hadir dalam bentuk yang lebih dekat dan personal. 

UMA NUSANTARA menghadirkan tujuh lagu yang membawa pendengar berkelana dari satu wilayah ke wilayah lainnya di Indonesia.

Perjalanan dimulai dari Wae Rebo, membawa pendengar menuju salah satu budaya yang lekat dengan Flores. Kemudian berlanjut ke Alor Memanggil dan Sumba My Island, dua lagu yang membawa warna Nusa Tenggara ke dalam perjalanan album.

Eksplorasi kemudian bergerak menuju wilayah lain melalui Tana Sagu, yang menghadirkan gambaran tentang tanah dan kehidupan yang begitu dekat dengan sagu. Perjalanan berlanjut ke Jawa Barat melalui Baduy Suatu Pagi, sebelum mencapai Bunda Nusantara, sebuah lagu yang dapat dibaca sebagai ruang untuk memandang Indonesia secara lebih utuh, sebagai rumah yang menaungi begitu banyak perbedaan. 

Album ini kemudian ditutup dengan Rumah Gadang, membawa pendengar menuju Sumatera Barat sekaligus menghadirkan simbol tentang rumah, identitas, dan kebersamaan. 

Tujuh lagu yang dirangkum menjadi satu album ini memperlihatkan bahwa Nusantara tak hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga kekayaan cerita yang tumbuh di dalamnya. Ada tanah, rumah, masyarakat, tradisi, serta cara setiap daerah mempertahankan identitasnya di tengah perubahan zaman. 

Bagi Ivan Nestorman, album UMA NUSANTARA ini adalah sebuah media untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia dengan caranya sendiri, serta menjadi sebuah ajakan untuk kembali melihat Indonesia dari berbagai sisinya. 

Dari barat hingga timur, setiap tempat memiliki suara, cerita, dan keunikannya sendiri. Dan ketika semua suara itu bertemu, lahirlah sebuah rumah besar bernama Nusantara. 

Album UMA NUSANTARA karya Ivan Nestorman sudah dapat didengarkan pada seluruh digital streaming platform kesayangan kalian. 

—

UMA NUSANTARA – IVAN NESTORMAN

Song Credits: 

Author : Ivan Nestorman

Producer : UMA NUSANTARA

Arranger : Ivan Nestorman

Composer : Ivan Nestorman

Design Artwork : Ando Okilaga

Pengarah Vocal : Ivan Nestorman

Mixing & Mastering : Benito Siahaan

PRESS RELEASE : “Tiga Belas Musim”

JAKARTA, Juni 2026 – Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, ada ruang-ruang tenang yang hanya

bisa dibangun oleh waktu dan kesetiaan. Menandai momen berharga ulang tahun pernikahan yang ke-
13, Panji Dewantoro Project resmi merilis sebuah karya musik yang sangat personal berjudul “Tiga Belas

Musim”. Lagu ini diciptakan khusus oleh Panji Dewantoro sebagai dedikasi mendalam dan kado cinta
yang tulus untuk sang istri.
Melalui untaian lirik yang sederhana namun jujur, “Tiga Belas Musim” menangkap esensi dari sebuah
perjalanan domestik yang matang. Judul lagu ini menjadi simbol dari dinamika, pasang surut, serta
keindahan komitmen yang telah diukir bersama selama lebih dari satu dekade.
Sisi emosional lagu langsung terasa sejak bait pertama dibuka:
“Waktu tak pernah menunggu / Tapi kita terus bertumbuh”
Penggalan tersebut menggambarkan bahwa meski waktu terus bergulir, kedewasaan cinta justru
semakin mengakar kuat. Puncaknya, lagu ini menegaskan arti kehadiran sang istri bukan hanya sebagai
pendamping, melainkan sebagai rumah tempat kembali:
“Dinda, tiga belas musim bersama / Mengukir cerita-cerita sederhana / Saat hari berjalan begitu
panjang / Aku tahu ke mana harus pulang”
Secara aransemen, “Tiga Belas Musim” dikemas dalam balutan genre bossa nova jazz yang kental
dengan nuansa intim dan hangat. Sentuhan ritme yang tenang namun mengalun sengaja dirancang agar
pendengar dapat merasakan ketulusan dari setiap baitnya. Lagu ini merayakan kesederhanaan hidup
yang justru menjadi fondasi paling kokoh dalam sebuah hubungan.
Melalui rilisnya lagu ini, Panji Dewantoro Project berharap “Tiga Belas Musim” tidak hanya menjadi
catatan harian bagi sepasang kekasih, tetapi juga mampu menjadi lagu tema (soundtrack) bagi siapa
saja yang sedang merayakan komitmen, rasa syukur, dan indahnya menemukan tempat “pulang” yang
sejati.

AUDIO & PRODUCTION CREDITS
Judul Lagu: Tiga Belas Musim
Artis: Panji Dewantoro Project
Lirik & Komposer: Panji Dewantoro
Genre: Bossa Nova Jazz
Tanggal Rilis: 16 Juni 2026

LIRIK LAGU
“Tiga Belas Musim”
Song & Lyric by Panji Dewantoro

Waktu tak pernah menunggu
Tapi kita terus bertumbuh

Dinda, tiga belas musim bersama
Mengukir cerita-cerita sederhana
Saat hari berjalan begitu panjang
Aku tahu ke mana harus pulang

Matthew Sayersz & Marclesia Karim

Matthew Sayersz & Marclesia Karim kembali merilis karya terbaru dalam debut Album Ep bertajuk “Dua Senada” yang berisi 5 buah lagu dengan nuansa & genre Pop/R&B 80s & 90s. Lagu-lagu yang diciptakan Oleh Matthew Sayersz masih seputar kisah cinta yang mereka alami seperti tema lagu single perdana mereka yang berjudul “Seminggu”. Karya album debut ini merupakan hasil kolaborasi yang mereka kerjakan berdua mulai dari proses pembuatan aransemen musik, aransemen vocal, mixing mastering, serta album artwork. Album ini adalah langkah awal dan semangat untuk merilis karya lagu atau karya album di masa-masa mendatang. Matthew & Marclesia berharap album ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan penikmat musik di Indonesia. 

BerNyala – Bernyanyi Dalam Gelap

Begitu banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengekspresikan kepedulian terhadap tanah air. Dimulai dari yang teguh menunaikan kuasa jabatan, menampik tabiat korupsi, hingga yang dayanya mengkristal jadi kritik. Kritik itu sendiri juga bisa diwujudkan dalam demonstrasi keras, petisi elegan, literasi pencerahan, lantun lagu, sampai yang hanya mampu larut dalam hening. 

Kritik melalui harmoni nada dan lirik lagu pun ternyata terbentang lebar. Ada yang garang lantang siap menerjang, ada yang syahdu merindu terang di ujung terowongan, dan juga ada yang melontarkan celoteh jenaka yang menghujam kepekaan. 

Itulah cara yang dilakukan para alumni ITB melambungkan getir batinnya atas fenomena yang melanda Indonesia. Para alumni ITB bersatu dan membuat sebuah grup musik, BerNyala. 

Letup keresahan dan kegeraman membuncah dalam lagu Perang yang merangkul semua orang menolak takluk pada kebobrokan. Kalaupun perjuangan ternyata harus patah, sejatinya jiwa-jiwa merdeka tak pernah kalah. Selalu tersimpan benih bela rasa dalam merawat mimpi dan daya juang sesama anak negeri walau harus rela Bernyanyi Di Dalam Gelap.

Dalam kegelapan, rasa pedih kian menyayat kala menyaksikan betapa Percuma kekayaan alam maupun perjuangan para pendahulu akibat adab rakyat yang terbodohkan maupun pemimpin yang tak acuh. Terlebih saat para pengkhianat demikian tamak melampiaskan syahwat diri dengan sikap EGP (Emangnya Gue Pikirin). Mereka adalah Drakula tanpa nurani yang tega menghisap jiwa rakyat hingga kerontang. 

Beruntung selalu ada sosok yang tak henti menyapa Halo sebagai tanda bahwa kehidupan masih berdenyut walau rasa letih dan putus asa demikian keras mendera. Kesadaran hakiki layak dirawat melalui dentam ritmis Melodi SKJ (Standar Kewarasan Jiwa) yang menampik bodoh.

Kita patut setia Menjaga Negeri dari tangan-tangan kotor yang tak sungkan memperkosa Ibu Pertiwi. Rakyat Jelantah sekalipun harus punya harga diri selaku ahli waris negeri. Hanya dengan demikian kita bisa bangga berbisik Aku Padamu pada tanah air.

Ekspresi resah, geram, asa, semangat, dan kesetiakawanan alumni ITB terjalin kental dalam album kesadaran bertajuk Bernyanyi Dalam Gelap. BerNyala paham bahwa menjalani kegelapan bukanlah pilihan, melainkan penindasan atas ketakberdayaan maupun kebodohan. Sedangkan kegelapan amatlah berbahaya karena berpeluang melesakkan sikap pasrah bersekutu dengan penjarah. Di titik itu, kami sepakat bernyanyi sebagai isyarat bahwa tekad dan arah belum pupus dari nurani walau gelap menghadang pandang. 

Kini dan di sini, BerNyala masih ada dan akan tetap ada, mengusung suara yang tak tersuarakan.

Ketha Bona – Ketha Bona

Ketha Bona merupakan kelompok musik etnik yang memadukan kekuatan ritme perkusi dengan keindahan melodi suling. Karya-karyanya menghadirkan warna harmoni yang berakar pada kekayaan tradisi. Nama ‘Ketha Bona’ terinspirasi dari lagu tradisional Afrika Barat, sebuah nyanyian dari bahasa Ewe yang diterjemahkan ke dalam bahasa Zulu (Afrika Selatan) dengan pesan moral yang kuat, yaitu pilih mereka, terimalah mereka apa adanya.

Di tahun 2026 ini, Ketha Bona merilis sebuah single yang diberi tajuk “Ketha Bona”. Lagu ini mengajarkan tentang penerimaan tanpa syarat, bahwa setiap manusia layak untuk dihargai, tanpa adanya diskriminasi, tanpa dipilah berdasarkan rupa, status, ketimpangan fisik, atau atribut sosial apa pun. Pesan inilah yang menjadi dasar bagi Ketha Bona memilih namanya, sebuah pengingat bahwa musik adalah ruang terbuka bagi siapa saja, dan bahwa ritme adalah bahasa yang menyatukan.

Dalam setiap penampilannya, Ketha Bona menghadirkan dialog antara perkusi yang menggugah dan suling yang menenangkan. Musik Ketha Bona menjadi undangan untuk merasakan kebersamaan, untuk menyadari bahwa harmoni lahir ketika setiap suara diberi tempat.

Dengan semangat Bringing Rhythm and Tradition into Harmony, Ketha Bona mengajak para pendengarnya untuk merayakan keberagaman bunyi, merangkul manusia apa adanya, serta menghadirkan musik etnik yang hidup dalam irama kebersamaan.

Dengarkan “Ketha Bona” di seluruh digital streaming platform kesayangan kalian!

“KETHA BONA” SONG CREDITS:

Performed by Ketha Bona

Composed by Jeremy Trilaksono Siahaan

Arranged by Ketha Bona (Jeremy Trilaksono Siahaan, Yonatan Gilberth Mamangkey, Lamganda Januardo Saragih)

Author: Tradisional Ewe

Translated to Zulu by Jeremy Trilaksono Siahaan

Produced by Grace Foeh 

Rumah Tua – Merayakan Hari Akhir

Jakarta — RUMAH TUA resmi merilis album perdana mereka yang berjudul “Merayakan Hari Akhir”. Album ini memuat delapan lagu dengan narasi yang dirangkai secara berurutan. Album ini menyajikan perjalanan emosional yang dimulai dari fase kelahiran, melewati resahnya kehidupan, hingga mencapai pernyataan tegas tentang arti perlawanan. Rilisan ini memperlihatkan bagaimana band tersebut mengolah pengalaman sehari-hari menjadi cerita musikal yang padat dan terstruktur.

Album dibuka dengan “Kata Pengantar”, sebuah nomor yang berfungsi sebagai pintu masuk menuju keseluruhan cerita. Lagu ini memperkenalkan suasana awal: ruang kelahiran yang tidak steril, dipenuhi keributan batin serta pencarian arah.

Dari sana, trek “Perjamuan” memperluas tema dengan menghadirkan gagasan rumah pertemuan—sebuah tempat simbolis di mana siapa pun dapat datang, duduk, dan mengambil bagian dalam perjalanan. Lagu ini menjadi konteks bagi ide jamuan: ruang untuk berbagi, mendengar, dan menata ulang energi sebelum melangkah lebih jauh.

Memasuki bagian tengah album, lagu-lagu seperti “Korban”, “Lara Membara”, dan “Satu Api” mulai mengerucutkan konflik yang dihadapi. Ketiganya menyoroti ketegangan antara kerentanan dan ketegasan, antara menerima luka dan memilih untuk tetap bergerak. Melalui pendekatan Rock & Soul yang mereka usung, album ini menghadirkan suasana emosional yang terus meningkat.

Ketegangan itu kemudian berlanjut dalam “Setapak Kematian” dan “Tanya Tanda?”, dua trek yang menantang pendengar untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang arah hidup dan batas keberanian. Kedua lagu ini berperan sebagai titik refleksi, memperlambat langkah untuk melihat kembali apa saja yang telah dibawa sepanjang perjalanan album.

Sebagai penutup, “krsst” menjadi klimaks yang menegaskan pesan utama album: kekalahan bukanlah akhir, melainkan awalan baru yang bahkan bisa dimulai oleh siapa saja. Lagu ini merumuskan ulang gagasan kalah sebagai bagian dari ambisi, sebagai kondisi yang justru menyalakan kembali dorongan untuk melawan. Penutup tersebut memberikan kesan bahwa perlawanan tidak berhenti pada satu suara saja, tetapi dapat diteruskan oleh siapa pun yang mendengarkan.

Bersama kita “Merayakan Hari Akhir” di seluruh platform digital yang telah tersedia. Mari jadikan ini sebagai momen perayaan untuk siapa pun yang mau melawan. 

Instagram: @_rumahtua

TikTok: _rumahtua

Youtube: @rumahtuaofficial

Email: rumahtuaofficial17@gmail.com

Phone/WA: +62 838-7339-0083 (Gunadi)

Chairis Yoga ft. Sahlendra, Gege, Damar, Bella

Sosok Mama menjadi hal terpenting dalam kehidupan, tumbuh kembang, serta mental anak. Keberadaannya menumbuhkan semangat serta penerang dalam menjalani kehidupan yang semakin hari semakin berat untuk dijalani. Apapun yang seorang anak butuhkan, pasti dipenuhi oleh seorang Mama dengan seluruh tenaga yang ia punya. Ungkapan syukur dan jutaan kata terima kasih sepertinya tak cukup untuk membalas semuanya. 

Hal tersebut menjadi perhatian bagi Chairis Yoga untuk menulis lagu indah yang dinyanyikan dengan manis oleh keempat anak muridnya, bertajuk “Mamaku, Matahariku”. 

Setelah 3 tahun dirilis dinyanyikan oleh Sahlendra, lagu yang terinspirasi dari Sahlendra ini akhirnya dirilis dalam format vocal group bersama dengan ketiga muridnya yang lain, yaitu Gege, Damar, dan Bella. Dalam lagu ini, Chairis melukiskan sosok Mama sebagai matahari bagi anak-anak, yang selalu memberikan kehangatan dari tatap matanya dan menerangi hidup anak-anaknya melalui doa-doa. 

“Mamaku, Matahariku” juga akan dirilis dalam bentuk Music Video yang akan tayang pada 22 Desember 2025 untuk memperingati hari Ibu. Melalui lagu ini, Chairis Yoga berharap anak-anak selalu berbakti serta memberikan perhatian dan sayangnya kepada Mama. Lagu ini menjadi sebuah hadiah bagi Mama hebat dimanapun berada. 

Kartel – Album : ORDO KARNIVORA

Realita kehidupan dalam lingkungan pekerjaan serta pergaulan ternyata jauh dari ekspektasi, ditambah tatanan negara yang akhir-akhir ini begitu membuat masyarakat merasa susah untuk memenuhi ekspektasi kehidupan, menjadi alasan bagi grup band thrash metal asal Tangerang, KARTEL. 

Seluruh keluh kesah KARTEL telah disatukan ke dalam sebuah album perdana mereka yang diberi tajuk “ORDO KARNIVORA”. Album yang berisikan 10 track ini menegaskan perjalanan KARTEL dari tahun 2014 bermain musik. “ORDO KARNIVORA” tak hanya berisikan lagu saja, tetapi album ini menjadi sebuah keluh kesah dari para personil tentang tatanan negara Indonesia serta realita kehidupan di lingkungan pekerjaan serta pertemanan sehari-hari. 

Proses pembuatan album perdana ini terbilang cukup sulit. Mulai dari masalah finansial, miss komunikasi antar personil, kesibukan tiap personil, dan lainnya membuat album perdana ini menjadi salah satu karya yang sangat berharga bagi KARTEL. Namun, hal-hal tersebut tak membuat semangat para personil menurun, justru mereka semakin panas membara untuk menyelesaikan album “ORDO KARNIVORA”. 

Album “ORDO KARNIVORA” sudah dapat didengarkan di seluruh DSP, serta album ini juga bisa dinikmati dalam bentuk CD yang akan segera dirilis oleh UTK Records.

YOUR SHOPPING CART

title_goes_here